(Article Lainnya - 01 Jul 2026)
Glukosa-6-fosfat dehidrogenase (G6PD) adalah enzim yang ditemukan dalam sitoplasma semua sel dalam tubuh. Enzim ini merupakan enzim yang memainkan peran penting dalam mencegah kerusakan sel akibat oksigen reaktif (ROS). Eritrosit sangat membutuhkan enzim G6PD karena rentan terhadap ROS, mengingat eritrosit terus-menerus terpapar oksigen. Tidak seperti sel lainnya, eritrosit tidak memiliki inti sel, sehingga jika terdapat kerusakan akibat ROS, eritrosit tidak mampu mengganti protein sel.1
Defisiensi G6PD merupakan penyakit yang diturunkan. Kondisi ini dapat mengakibatkan anemia hemolitik akut (penghancuran eritrosit secara berlebihan), terutama pada saat ROS di tubuh meningkat. Hal yang dapat menyebabkan ROS meningkat contohnya stres metabolik seperti infeksi, atau paparan makanan yang mengandung zat oksidatif dalam jumlah tinggi, seperti kacang fava atau obat-obatan tertentu, terutama obat anti-malaria.2
Pada bayi, defisiensi G6PD seringkali menyebabkan penyakit kuning (ikterus/jaundice). Oleh karena itu, skrining sebaiknya dilakukan pada bayi baru lahir, terutama bayi dengan riwayat keluarga defisiensi G6PD, atau menunjukkan tanda ikterus yang tidak respon terhadap terapi. Skrining juga sangat dianjurkan di negara dengan prevalensi defisiensi G6PD yang tinggi. Metode skrining yang paling umum menggunakan metode imunofluoresensi atau spektrofotometri untuk kuantifikasi G6PD dari sampel darah kertas saring. Jika hasilnya positif (G6PD rendah), maka harus dilakukan tes konfirmasi menggunakan whole blood EDTA.3
Indikasi untuk pemeriksaan defisiensi G6PD meliputi:
Pemeriksaan laboratorium akan menunjukkan anemia serta tanda-tanda hemolisis. Pemeriksaan untuk mendiagnosis hemolisis meliputi:
Peningkatan jumlah retikulosit menunjukkan peningkatan respons sumsum tulang terhadap anemia. Peningkatan kadar bilirubin direk dan LDH menunjukkan peningkatan kerusakan eritrosit. Penurunan kadar haptoglobin, hematuria, dan adanya hemosiderin urin menunjukkan tanda hemolisis intravaskular.4
Apusan darah tepi dapat menunjukkan tanda-tanda hemolisis, seperti polikromasia (karena peningkatan retikulosit), eritrosit berinti,5 fragmentosit (sisa eritrosit yang hancur), badan Heinz,6 blister cells, dan ghost cells.7
Gambar 1. (Kiri) Pewarnaan MGG (May Grunwald Giemsa) yang menunjukkan blister cells (panah hitam), bite cells (panah biru), dan fragmentosit (panah merah).
(Kanan) Pewarnaan supravital yang menunjukkan badan Heinz (anak panah) dan retikulosit (*).8
Badan Heinz merupakan gumpalan hemoglobin yang terdenaturasi akibat kerusakan oksidasi. Badan inklusi ini tidak nampak dengan pewarnaan rutin, tetapi baru akan muncul dengan menggunakan pewarnaan supravital. Badan Heinz juga terlihat pada pasien dengan penyakit yang menyebabkan hemoglobin menjadi tidak stabil, seperti hemoglobin köln. Bite cells disebabkan oleh limpa yang membersihkan bagian hemoglobin yang terdenaturasi tersebut.
Gambar 2. Bite cells (panah) pada defisiensi G6PD.9
Pada pasien dengan defisiensi G6PD, harus dilakukan pemantauan komplikasi seperti riwayat keluhan, riwayat obat-obatan, dan skrining keluarga dengan gejala serupa. Penting juga untuk mengevaluasi tanda infeksi, karena infeksi dapat menyebabkan peningkatan ROS dan memicu kejadian hemolitik pada pasien dengan defisiensi G6PD. 2
Gambar 1. Apusan darah pasien yang diwarnai dengan pewarnaan Romanowsky.
(A): Anisopoikilositosis eritrosit dapat dilihat pada perbesaran rendah (40x).
(B): Pada resolusi tinggi (100x), mikroskopis apusan darah menunjukkan blister cells dan ghost cells. Blister cells memiliki vakuola di bagian tepi membran, yang merupakan hasil pembuangan detritus intraseluler oleh makrofag. Ghost cells merupakan tanda kerusakan eritrosit akibat stres oksidatif.7
Gambar 1. Apusan tepi dengan perbesaran 1000x (pewarnaan Wright Giemsa) menunjukkan karakteristik krisis hemolisis akibat obat pada defisiensi G6PD: anisopoikilositosis, bite cells (panah biru), banyak blister cells (sel "hemi-ghost" dengan sitoplasma setengah kosong, panah hitam), dan ghost cells (yang merupakan membran eritrosit tanpa hemoglobin, panah merah). 10
Apusan darah memainkan peran penting dalam mendiagnosis defisiensi G6PD karena dua alasan penting. Pertama, pemeriksaan ini dapat mengarahkan kemungkinan diagnosis anemia hemolitik non-imun karena gejala G6PD seringkali tidak spesifik, sehingga pasien biasanya belum diperiksa G6PD kuantitatif.
Kedua, pada kasus krisis hemolitik akut, penting untuk diketahui bahwa bahkan jika hasil tes G6PD normal, diagnosis defisiensi G6PD masih dapat belum dapat disingkirkan. Defisiensi C6PD masih menunjukkan hasil tes normal pada saat krisis hemolitik akut karena sel-sel abnormal cenderung lebih mudah lisis, sehingga yang tersisa adalah sel normal. Hal ini mengakibatkan hasil G6PD kuantitatif negatif palsu. Pada kondisi tersebut, diperlukan identifikasi fitur morfologi RBC yang khas dalam apusan darah untuk mengarahkan diagnosis. Setelahnya, pengukuran aktivitas G6PD dapat dilakukan setelah fase hemolitik akut terlewati.
Sebagai kesimpulan, morfologi darah tepi pada defisiensi G6PD memainkan peran penting dalam proses diagnostik, khususnya dalam mendukung tes G6PD pada situasi hemolitik akut.10
Daftar Pustaka